Profil Admin

Foto Saya
MH Choeruddin
banyak kekurangan dalam diriku... maukah kau menutupi kekuranganku?? -wu-
Lihat profil lengkapku

Comicus24 (Pemilu 2011)

0 komentar

-hRu-
Agustus’2011


Heii... :D ehem..ehemm.. mohon perhatiannya sebentar, Kawan.
Oke, syips. b(^^.)
Helllooo... ketemu lagi ama ane. Kayaknya kalian udah kangen ye ama ane. Hihi *ePeD Makanya sekarang ane hadir tanpa dijemput dan pulang tanpa diantar. Ane, penghuni Comicus24 yang level ke-axis-annya *iklan ada di garda belakang (ceritanya merendah.. haha) *bletaakkk... (salah satu pembaca lempar koin ke kepala)
“Ikhwaw.. biasa aja dong, gak usah lempar koin gitu. Emang ane celengan apa, pake lempar koin ke kepala segala. Huh.”
Nah, daripada ntar lebih banyak koin yang berterbangan ke sana ke mari ke sini ke situ. Lebih baik ane langsung lanjut ada dah ke intinya. Yodah, selamet baca. c*e*k*i*d*o*t  \(^^.)

*************

Semilir angin yang sedari tadi sejuk, kinimulai terasa memanas. Entah mungkin karena terlalu banyak manusia di sini atau mungkin karena aku berada dalam situasi yang sedikit tak nyaman. 3 pasang bola mata ini saling beradu pandang, mengisyaratkan sesuatu, berlanjut mengalir ke bawah, menarik lengkung bibir, tercipta sebuah senyum kecil tak pahit.
“Bang, tadi milih siapa?” tanyaku.
“Milih yang ini, yang di samping,” jawabnya menunjuk salah satu pemilik sepasang bola mata dari 3 pasang bola mata itu.
Si empunyapun sedikit lebih melebarkan senyumnya mendengar pernyataan itu.

*Cerita Sebelumnya*

“Bang, si Mella makin lincah aja sih. Padahal waktu itu kan udah sekarat ya,” ujarku melihat Mella yaang sedang asyik bermain dengan kawan-kawannya yang berbeda ras, suku, dan bangsa.
“Itu... batunya abang pindahin ke tengah, jadi dia gak bisa diem di pojokan itu lagi.”
“Emang si Mella cewek apaan... pake mojok di deket batu segala.”
“Hahaha... yaudahlah, nonton Naruto dulu yuk, Jang!”
Aku menolak ajakannya, aku lebih memilih untuk berdiam di ruang tamu, memerhatikan keempat sahabat yang sedang asyik bermain. Kadang aku tersenyum sendiri melihat mereka, seakan mereka tak pernah punya cerita tak bahagia. Aku sedikit memutar otak sedikit ketika berusaha mengingat kawan-kawan Mella. Nama-nama mereka sering tertukar satu sama lain, itu karena mereka memiliki wajah yang hampir sama. Mirip sangat, kawan!
“Natalie.. Hegar.. Indri.. eh salah. Indri.. Hegar.. Natalie.. eh. Hegar.. Indri.. Nat.. bisa diem gak sih kalian, jangan muter-muter mulu coba! Kesder tau!” batinku.

“Eh, ngomong-ngomong kalian tau gak sih siapa Mella itu, Kawan?” *ngomong ama pembaca
“Aku tau.. aku tau..” jawab salah seorang dari kalian sambil mengacungkan jari... (-_-“) ...tengah.
“Oke. Jadi gak ada yang tau ya..”
“Aku tauuuu.... wooooooyyyy......” bantah anak bagong yang mukanya mulai memerah sapi itu.
“Dikarenakan gak ada yang tau, sekarang ane kasih tau ye...” ^_^
“Woooyyy... gue tau, dodoll! Mella itu kan ikan.. kaan.. kaaaaannnn..... *ceritanya echo ” teriak pake TOA Musholla An-Nur (musholla di tempat ane).
Okeh, Kawan. Karena kawan kita yang terhormat yang ada di sana udah ngasih tau *sinis. Jadi aku gak usah cerita lagi soal si Mella cs itu cuma segerombolan ikan penghuni rumah bercat pink ini. Dan terimakasih ya buat kamu yang udah ngasih tau. Ini ane kirimin tanda terimakasih buatmu, bibeh... ^_^ *ngirim santet

“Berangkat yuk... Narutonya udahan,” ujar Iis ismail mengagetkanku yang sedang khusyuk memandang Mella, Indri, Natalie, dan adiknya Widyana Shelviera (Hegar).
Aku hanya tersenyum kecil yang berarti “mariii”. Ku lihat jam telah menunjukkan pukul 10, itu berarti kami ngaret 1 jam dari jadwal yang telah ditentukan oleh Musyarofah selaku ketua panitia Pemilu Comicus24 yang diadakan hari ini. Yang lebih parah, ritual ngaret inisudah kami rencanakan dari semalam, Kawan. (_ _“) Asli itu usulan Ismail, Kawan. Sueerrr dah... v—
Sesampainya di kampus biru kami tersayang, (-_-“) kami kebingungan mencari TPU kesana kemari, tapi tak kunjung terlihat keberadaannya. Bahkan satu makampun tak terlihat. *whadhezziigh
“Bang, sms gih!” usulku.
“Iya, ini lagi sms.”
“Send all jeh.. nanya ke ane juga? Ckck...” ujarku sambil memandang layar handphone.
“Heheheee...”
Ketika menaiki anak tangga tanpa ayah-ibu yang berdebu menuju lantai 2, suara yang sangat familiar menyergapi telinga kami. Suaranya sangat membahana, bagai gaung dalam gua. Ya, itu suara Meidi Pramudia, orang *ehem yang sebentar lagi lengser dari jabatannya. Seperti yang telah terduga sebelumnya, mereka sudah berkumpul di ruang 2.19. Ruang 2.19, ruang yang akan menjadi salah satu tempat bersejarah bagi kami para penghuni Comicus24.
“Tuh kan, barengan... pacaran dulu yaa...?” sindir Meidi pada kami yang masuk secara bersamaan.
Jujur aku tak candaan dia yang satu ini. *eh *curhatcolongan
“Nur, sepuluh... Ikin, nol... Dady, nol... Ismail, enam... Heru, lima... dan Yopi, tiga... Nah, itu hasil putaran pertamanya. Dari situ kita ambil 3 kandidat dengan poin terbesar,” jelas Musyarofah.
“Yaelah, ada yang milih aku juga,” gumamku.
“Heru, aku dukung kamu!” teriak Dady dari arah belakang.
“Aku dong, dukung Iil... :p” balas Widy.

*Balik ke Cerita Awal*

“Kalo aku milih kamu, Bang. Kamu sih, De?”
“Milih yang di belakang noh!” jawab Nur Muchamad.
Ternyata para kandidatpun tidak memilih dirinya sendiri, melainkan memilih rivalnya sendiri. Kecuali Yopi Rudianto, mungkin. *masihdugaanane Dady memilih aku, aku memilih Ismail, Ismail memilih Nur, Nur memilih Yopi, dan Yopi... heemm.. andaikan memilih Dady, menjadi sebuah rantai deh. Haha
Kini aku, Ismail, dan Nur terpampang di depan ribuan pasang mata. Wajib mengeluarkan beberapa kalimat untuk menjawab pertanyaan maupun untuk mempengaruhi otak-otak mereka agar memilih kami kembali di babak kedua ini. Tetapi kesan yang tercipta dai kami ialah kami lebih merendah diri, mau tak mau, dan seperti pernyataan “jangan pilih aku”. Hahah
“Aku pilih Ujang karena kayaknya Ujang bertanggungjawab, punya...” ujar Astri Fitria Nurani. (Ane lupa kalimat-kalimat apa saja yang keluar darinya juga dari yang lainnya. *he Nah, kali ini nama kamu muncul, Bu’As. ^_^ Walau cuma satu kali. Hahaha)
Kemudian usut punya usut, dari situ aku tahu siapa saja yang memilihku. Yang berkonspirasi memilihku ialah pihak panitia sendiri, Musyarofah dan Lian Yustriatin, kemudian Dady Rukmana, Ikin Sodikin (voting melalui SMS), dan Astri F. Nurani. (eh, dua kali muncul ternyata... haha)
Detak jantung ini terasa kian kencang, getarannya mencapai 5 SR f(-__-“). Aku ditemani 2 orang aneh di samping kananku. Berdiri di atas panggung showcase, bagai 3 personel boyband papan bawah bersiap menari dan menyanyi..
“Haduuuhhh... ceritanya panjang eBeGeT! Males tauk!!!” protes salah satu pembaca.
“Hehehe...piissakh v--. Yodah, langsung ke hasil aje kali yyeee...”
“Monggoooowww...”
Aku dengan jumlah poin 5, Ismail dengan jumlah poin 9, dan Nur dengan jumlah poin 6. Hasil akhir belum bisa ditentukan, Kawan. Karena kami masih menunggu 4 poin lagi melalui SMS.
“Yaelah, kalo keempat-empatnya milih ane, seri dong... -_- ” batinku ePeD.
SMS-SMSpun masuk di handphone salah seorang panitia. Hasilnya 1 poin masuk ke Nur, 1 poin masuk ke Ismail, dan 2 poin tersesat memilihku. Dan itu artinya Iis Ismail-lah yang menjadi kandidat terpilih sebagai Koordinator Mahasiswa kelas 1C, Comicus24, Kawan! *yeyeyeye *tepuktangan
Di ruang 2.19, samping tangga lantai 2, hari ke-6 di bulan Agustus, pukul 12 lewatnya banyak (banyaknya aku tak hafal, tak mencatat, dan tak mencari tahu, Kawan. Kalo ada yang tahu, mohon inputnya ^_^). Terekam sebuah kisah klasik Comicus24 yang mungkin akan abadi bersarang di benakku dan benak mereka para penghuni Comicus24, khususnya Is Ismail. Ada banyak bahagia, ada sedikit sedih, dan ada sedikit capek nulis... *eh
Kawan, di hari cerita itu terukir sebenarnya ada beberapa yang belum ditulis di sini. Hal yang tak ada itu seperti: ribut-ribut masalah rencana buka bersama yang diadakan tanggal 17 tapi jadinya sih tanggal 16, pemilihan kabinet yang baru, dan rencana surprise ulang tahun Nina Ariani Juarna dan Winda Indriani Nurillah. Aku tak memasukkannya karena cerita ini saja sudah memakan 5 halaman A4, apalagi ditambah cerita yang hilang itu. Meleber kemana-mana nantinya. (-___-“) Akhir cerita, “Wassalam.”

“Buat Lulu Kamilah, semoga sukses di sana. Kamu kan tetap kami kenang kok. Dan buat Iis Ismail, semoga masa baktimu sukses, Bang!”